Melatih Kesigapan Pengemudi

MENJADI pengemudi yang baik ternyata tidak melulu menyangkut kedisiplinan, tetapi juga terkait dengan kesigapan pengemudi terhadap perubahan fisik seketika dari kendaraan.

Pada kondisi yang mendadak itu, tentu seorang pengemudi pun dituntut mampu memberi aksi spontan yang tepat. Hal ini sebenarnya bukan hal baru, karena tuntutan kemampuan ini sudah lama menjadi bagian dalam ujian mengemudi calon pemegang surat izin mengemudi (SIM) klasifikasi umum.

Akan tetapi, hal ini memang menjadi penting, bukan hanya dalam soal mengurus SIM umum itu, tetapi karena reaksi spontan ini sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan meski hanya diawali oleh peristiwa kecil yang sebenarnya tidak terlalu membahayakan.

Misalnya, reaksi pengemudi pada saat melintas cepat di jalan bergelombang besar, sehingga kendaraan melayang beberapa saat meninggalkan aspal. Pada kondisi ini, pengemudi umumnya bereaksi dengan menginjak pedal rem dan bahkan ada yang tanggap menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Itulah sebabnya, banyak kendaraan yang melompat di jalan bergelombang diiringi raungan suara mesin.

Reaksi spontan seperti itu mungkin belum terlalu mengancam jika kecepatan kendaraan masih di bawah 40 kilometer per jam. Lebih dari itu, ancaman pun akan semakin besar tentunya.

Ban Pecah

Tindakan cepat yang terkadang di bawah alam sadar itu sebenarnya bisa dan harus dilatih. Karena, pada peristiwa yang lebih berbahaya, reaksi cepat seperti itu akan menentukan keadaan beberapa detik kemudian.

Misalnya, peristiwa ban pecah saat kendaraan meluncur dengan kecepatan tinggi. Disinilah reaksi spontan yang positif sangat menentukan. Pada kondisi ini, pengemudi sangat dilarang menginjak rem yang menghentikan perputaran poros roda di bagian ban yang pecah. Pengemudi juga harus sebisa mungkin menjaga lingkar kemudi tidak berputar.

Bila rem ditekan, maka putaran poros roda menjadi tidak seimbang terutama di ban yang mengalami pecah. Pada kecepatan tinggi, tindakan ini berpeluang besar membuat kendaraan terguling. Karenanya, setiap pengemudi disarankan untuk melatih diri beraksi secara tepat terhadap setiap perubahan kondisi fisik kendaraannya.

Saran untuk melatih diri serupa itu juga disampaikan pemegang ranking satu nasional reli, Rifat Sungkar beberapa waktu lalu. Menurut pembalap yang juga memegang ranking tiga sprint rally nasional ini, kebanyakan pengemudi bertindak salah saat menyusul kendaraan di depannya.

Setiap akan mendahului kendaraan, pengemudi seharusnya menurunkan posisi tuas transmisi ke posisi yang lebih rendah. Dengan demikian, mobil akan memiliki kesempatan untuk memproduksi tenaga yang lebih besar guna mendahului kendaraan di depannya. Setelah kendaraan memiliki akselerasi yang tinggi dan berada pada posisi yang sejajar dengan kendaraan yang akan didahului, barulah tuas transmisi dinaikkan kembali ke posisi yang lebih tinggi.

Jalan Mendaki

Begitu pula ketika kendaraan tertahan macet di jalan yang mendaki. Pelepasan rem tangan sebaiknya dilakukan setelah kondisi mesin dalam keadaan siap mendorong maju pergerakan mobil. Bila pelepasan rem dilakukan sebelum kondisi mobil siap, maka mobil justru akan mundur terlebih dahulu sebelum bergerak maju. Kondisi ini bukan tidak mungkin akan membenturkan kendaraan dengan benda yang ada di belakangnya.

Menurut Rifat, pengemudi sebenarnya bisa melatih dirinya untuk mengetahui kapan saat yang tepat melepas rem tangan. Caranya sangat sederhana dan bisa dilakukan di dalam garasi mobil atau di tempat parkir lainnya. Yaitu, mesin dihidupkan dan tuas gigi transmisi dinaikkan sambil menekan rem kaki. Rem kaki yang berfungsi sebagai wakil rem tangan baru boleh dilepas ketika mobil sudah mulai bergetar. Karena, getaran mobil ini sebenarnya pertanda bahwa mesin sudah menghasilkan gaya dorong yang cukup untuk menggerakkan kendaraan ke depan. (Y-5)

Leave a Reply

Your email address will not be published.