Mesin “Inrijden”

Sebuah kendaraan baru biasanya memerlukan banyak penyesuaian. Namun, dengan perkembangan teknologi yang mampu melahirkan peralatan yang semakin presisi, masalah penyesuaian awal ini pun semakin jarang terjadi. Satu hal yang paling berpengaruh pada masalah ini terdapat pada kemampuan pabrik untuk menciptakan silinder mesin yang semakin halus dan presisi.

Dulu, setiap kendaraan, baik motor maupun mobil, harus mengalami masa penyesuaian yang lebih lazim disebut inrijden (baca: inreyen). Masa ini akan sangat menentukan bagaimana sebuah mobil nantinya, apakah akan berusia panjang atau tidak. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap perlakuan kendaraan saat masa inrijden merupakan bagian pembentukan kendaraan yang terletak di luar pabrik. Umumnya, para produsen otomotif menetapkan jarak tempuh 5.000 kilometer sebagai batas sebuah kendaraan inrijden dan non-inrijden.

Pada saat itu, para produsen kendaraan mengeluarkan buku manual sebagai acuan konsumen dalam memperlakukan kendaraannya. Isinya antara lain, kendaraan mesin belum boleh digunakan pada putaran tinggi. Selain itu, periode penggantian pelumas dibuat lebih cepat, serta penggunaan kendaraan dengan beban minimal.

Batasan-batasan tersebut tentu menjadi kendala bagi mereka yang ingin membawa sendiri kendaraan barunya dari kota tempat membeli kendaraan ke kota tempat di mana kendaraan tersebut akan digunakan.

Perlakuan terhadap kendaraan inrijden ini sebenarnya juga harus dikenakan terhadap mobil yang baru turun mesin. Contohnya, mesin mobil harus dipanaskan terlebih dahulu baru bisa dikatakan aman untuk per- jalanan jauh. Terlebih, pada pagi hari setelah semalaman penuh kendaraan diistirahatkan. Kalau perlu, sebaiknya, kendaraan dihidupkan dulu dengan posisi kunci kontak off.

Hal ini juga berlaku bagi kendaraan roda dua yang baru turun mesin. Sayangnya, perlakuan ini masih dipandang sebelah mata para pengguna motor. Terlebih perawatan yang menyangkut hitungan jarak tempuh.

Setiap motor baru atau yang inrijden sebaiknya memiliki mesin yang bekerja tidak melebih 5.000 rpm sampai pada jarak 500 km. Jika motor sudah melampaui jarak tempuh itu dan diganti olinya, barulah mesin motor dapat digenjot pada putaran 6.000 rpm. Hal itu dilakukan tiga kali atau sampai motor menempuh jarak 20.000 kilometer barulah motor bebas digunakan. Namun, jika harus bepergian jauh sebaiknya menggunakan mesin pada kecepatan rendah saja.

Contoh pada mobil dapat dilihat dari mesin VVT-i milik Kijang Innova. Mesin kendaraan ini memerlukan penggantian pad jarak tempuh pertama sejauh 1.000 kilometer. Selama jarak tempuh pertama ini, mesin tidak boleh dipaksa bekerja pada kecepatan kendaraan di atas 100 km per jam. [Y-5]

Leave a Reply

Your email address will not be published.