Merawat Sistem Transmisi Otomatis

MENGEMUDI memang akan lebih asyik di atas kendaraan berteknologi transmisi otomatis. Bagaimana tidak, selain lebih meringankan beban kerja kaki, sistem ini juga mudah digunakan atau kalau dalam istilah kerennya biasa disebut user friendly.

Selain itu, masih banyak keuntungan lain dari sistem ini, di antaranya perpindahan gigi otomatis yang lembut dapat menghilangkan kesulitan mengemudikan kendaraan. Kemudian, beban berlebih pada mesin dan pemindah daya dapat dicegah karena semuanya dihubungkan secara hidrolis. Pada jalur menanjak, transmisi otomatis dapat mencegah kendaraan bergerak mundur, yaitu dengan meletakkan posisi persneling pada kondisi D, 2 atau L. Posisi 2 atau L dapat digunakan mempertahankan kondisi diam kendaraan karena pada posisi ini terdapat engine brake.

Tapi, bukan buatan manusia lagi namanya kalau tidak ada kekurangan. Sistem yang lebih kompleks dari transmisi konvensional ini memang dirancang untuk memanjakan konsumen. Termasuk ketika ada kerusakan, pemilik kendaraan tidak boleh terlibat mengutak-atik mesin jika ingin “kuda” besinya tidak semakin rusak. Hanya ada satu cara bila sistem transmisi otomatis sudah rusak, yaitu membawanya ke bengkel resmi.

Namun, bukan berarti tidak ada cara lain untuk merawat sistem yang unik itu. Yaitu, upaya pencegahan berupa perawatan komponen-komponen kendaraan sehingga kinerja seluruh sistem yang ada tetap baik.

Salah seorang staf Emergency Roadside Assistance (ERA) Astraworld mengatakan, perawatan transmisi otomatis pada dasarnya hanya berkisar pada masalah oli. Karena itu, menurut dia, ada dua hal paling penting yang harus menjadi perhatian.

Pertama, kuantitas oli harus diperiksa secara periodik. Dengan demikian, kekurangan oli dapat segera diketahui. Penambahan oli ini harus dengan oli sejenis. Penggantian yang teratur sebaiknya pada setiap kelipatan 20.000 km. Penggantian ini akan lebih mudah bagi kendaraan yang memiliki lampu indikator oli. Begitu pula bagi kendaraan yang menggunakan oli dengan tipe ATF T-IV, penggantian kendaraan ini bisa pada kelipatan 100.000 km.

Kedua, pada transmisi otomatis, oli tidak hanya berfungsi sebagai pengantar, tetapi oli juga menjadi pelumas. Karenanya, jika terlalu encer atau terlalu kotor, daya pelumasnya akan berkurang. Sehingga, daya hantar oli pun berkurang dan transmisi menjadi lebih cepat panas.
Kondisi ini akan membuat oli menjadi panas juga. Dan, akan mengakibatkan kanvas-kanvas kopling hidrolik dan kanvas rem yang ada di transmisi tersebut cepat aus. Pada kondisi yang lebih buruk, kanvas-kanvas tersebut bisa terbakar. Akibatnya, tenaga yang dihasilkan mesin tidak dapat lagi diteruskan ke penggerak roda. Dan, mobil pun menjadi mogok.
Selain itu, transmisi otomatis juga bisa mengalami kebocoran seal-seal, yang sudah aus atau rusak. Kondisi ini, praktis mengakibatkan kuantitas oli berkurang dan tentu saja daya lumas sistem pun menjadi berkurang. Dampak yang diakibatkan sama saja, kanvas-kanvas bisa terbakar. Karenanya, dua langkah penting yang sudah disebutkan di atas memang harus menjadi perhatian. (AstraWorld/Y-5)

Leave a Reply

Your email address will not be published.