Merawat Power Steering

Kalau saja teknologi hidraulik belum ditemukan mungkin kenyamanan mengemudi tidak seperti apa yang dirasakan para pemilik kendaraan saat ini. Dengan teknologi tersebut, para perancang kendaraan bisa berinovasi menciptakan sistem yang meringankan putaran lingkar kemudi. Inilah yang kemudian disebut sebagai power steering.

Di kota megapolitan seperti Jakarta, dimana lalu lintas kendaraan sangat padat, peran power steering ini sangat membantu pengemudi, terutama saat kendaraan akan berputar arah atau parkir di lahan yang sempit.

Kendati demikian bukan berarti power steering ini tak memiliki masalah.

Salah satu kendala yang sering terjadi adalah kebocoran minyak pelumas pada power steering dengan sistem hidraulik tersebut. Hal ini mendorong lahirnya sistem lain yang menerapkan pemanfaatan motor penggerak elektrik yang berfungsi memutar steering box. Namun, pada kenyataannya sistem elektrik tersebut juga rentan terhadap kontaminasi larutan.

Bagaimana pun, kedua sistem tersebut tetap saja membutuhkan perawatan rutin. Jika sistem elektrik harus dicegah dari larutan, sebaliknya sistem hidraulik yang memanfaatkan minyak rem harus dicegah agar tidak mengalami kekeringan.

Keduanya membutuhkan perawatan berkala. Pada sistem hidraulik, minyak rem harus diperhatikan agar selalu dalam keadaan baik. Indikator minyak yang baik jika masih berwarna kemerahan dan harus diganti jika sudah berwarna hitam. Penggantian minyak rem ini pun sebaiknya dikerjakan teknisi yang berpengalaman.

Selain warna, volume pelumas tersebut juga harus menjadi perhatian. Wadah minyak ini biasanya memiliki indikator penunjuk ketinggian yang normal. Bila tinggi minyak berada di bawah indikator penunjuk tersebut sebaiknya lakukan pemeriksaan karena bisa saja terjadi kebocoran.

Setiap produsen kendaraan biasanya menganjurkan penggantian minyak rem pada jarak tempuh tertentu. Umumnya disarankan pelumas ini diganti pada jarak tempuh 30.000 km atau setiap pertambahan usia satu tahun kendaraan.

Selain minyak rem, masih ada beberapa indikasi adanya kerusakan pada sistem power steering. Tanda-tanda itu yakni putaran roda kemudi yang terasa berat, bunyi yang muncul saat roda kemudi diputar, dan putaran roda kemudi yang tidak selaras dengan membeloknya ban.

Masalah tersebut biasanya muncul akibat sabuk penggerak hidraulik mengalami perubahan fisik. Kondisi ini sering dirasakan dalam bentuk putaran lingkar kemudi yang terkadang terasa berat dan sekali-sekali terasa ringan. Kondisi terburuknya jika sabuk putus, maka power steering akan kehilangan fungsinya sama sekali.

Usia power steering sebenarnya bisa diperpanjang dengan menghindari kebiasaan memutar habis lingkar kemudi. Tindakan ini biasanya dilakukan para pengemudi ketika sedang memutar kendaraannya di tempat yang sempit.

Pada kondisi power steering berada pada putaran terakhirnya atau pada posisi tertinggi akan menyebabkan peningkatan suhu. Akibatnya, kelengkapan selang akan kehilangan elastisitasnya dan menjadi rapuh.

Bila hal itu berlangsung terus, bukan tidak mungkin komponen tersebut putus atau bocor. Akibatnya, oli akan merembes keluar dan tentu saja putaran lingkar kemudi akan terasa berat. [Y-5]

Leave a Reply

Your email address will not be published.