Konsep Defensive Driving

Kemacetan yang kian menjadi-jadi di Jakarta dan sekitarnya, termasuk juga di banyak kota besar di Indonesia, tak saja semakin diperburuk akibat amat besarnya jumlah mobil dan motor yang ada. Budaya dan mental pengemudi yang kurang memadai bagi adab kesantunan berlalu lintas, memiliki andil besar sehingga lalu lintas kota besar ini semakin semerawut. Di Jakarta saja, cara pengemudi kendaraan umum — mulai bajaj, taksi hingga bis kota — yang sangat ‘liar’ kerap membuat kian parahnya kemacetan.

Anda juga pasti sepakat, pola serampangan pengendara motor membawa kendaraannya, membuat pula semakin suramnya kondisi lalu lintas hampir pada semua lajur jalanan. Ini khususnya terjadi di Jakarta dan kota besar lainnya. Dan, buruknya mentalitas pembawa kendaraan bermotor itu bisa berdampak amat buruk, terus meningkatnya jumlah kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, mendesak segera dibudayakan cara mengemudi yang benar berdasarkan penguasaan teknis dan mental pengemudi atau populer dikenal sebagai defensive driving. Mantan pembalap nasional Aswin Bahar mengatakan, kini memang semakin perlu disosialisasikan defensive driving ini.

Dalam percakapan dengan Republika beberapa waktu silam, Aswin Bahar menyatakan terdapat empat kunci utama dalam menjalankan prinsip defensive driving. Bila Anda menjalankan hal tersebut, lanjutnya, paling kurang akan bermanfaat bagi jaminan keselamatan pribadi. Dan, bila lebih banyak lagi pengemudi yang menyadari hal itu, maka kebrutalan berlalu lintas pasti bakal berkurang.

Selama ini, kebanyakan pengemudi yang santun membawa kendaraannya sebatas menerapkan pola safety driving yang lebih mengarah pada kemampuan atau keahlian pengendarai dan mengemudikan semata. Bahasa sederhananya, mereka berhati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Tapi, itu tak cukup. Karenanya, diperlukan defensive driving yang lebih mengarah pada pola, cara, mental serta attitude pengendaraan. Empat kunci utama prinsip defensive driving tersebut adalah:

Kewaspadaan (alertness)
Kewaspadaan merupakan faktor utama yang menjamin pengendara selalu siaga dan waspada terhadap pengguna jalan lain. Bila pengemudi selalu waspada maka dia akan bertindak benar dalam menghadapi pengendara lain yang bisa saja berlaku serampangan. Hasilnya, dia tak ikut-ikutan melakukan kesalahan yang bisa membahayakan orang lain.

Kesadaran (awareness)
Pengemudi sadar dan memiliki pengetahuan serta prosedur berkendara yang baik, benar dan aman. Menyadari akan perlunya mengemudi dengan benar, membuat sopir tidak akan berhenti, menaikkan dan menurunkan penumpang secara sembarangan, misalnya. Berhenti sembarangan, misalnya, tak saja menganggu pengguna lain, tapi bisa juga membahayakan bagi dirinya sendiri.

Sikap dan mental (attitude)
Pengemudi yang memiliki sikap lebih mementingkan kepentingan umum, kepentingan dan keselamatan orang lain, akan berarti sekaligus menjaga keamanan diri. Pengemudi yang memiliki sikap dan mental baik, bersedia saling bergantian bila mendapati antrian di jalanan. Bila pengemudi menjalan sikap ini, sehingga tak emosional menghadapi perilaku buruk pengemudi lain, maka keruwetan lalu lintas dapat terkurangi.

Antisipasi (anticipation) Ini penting, karena pengemudi harus belajar membuat skenario berkendara yang baik sebagai evaluasi setiap kali melakukan kegiatan tersebut. Memang berkesan bagai impian, apalagi bila melihat kian ruwet dan macetnya lalu lintas di Jakarta.

Kemacetan yang terus tinggi, cenderung membuat emosi pengendara meningkat, saling potong, saling mendahului dengan cara menyerobot, melanggar rambu dan marka adalah keseharian di Jakarta. Sebagai pengemudi yang menjalankan konsep defensive driving, antisipasi ini harus dijalani mulai dari menanggapi brutalnya pengemudi lain dengan mental baik, hingga mengamati tren arus lalu lintas pada waktu dan tempat tertentu bila itu memungkinkan.
( bid )

Leave a Reply

Your email address will not be published.