Hati-hati di Musim Hujan

Musim hujan selalu berkait dengan munculnya ancaman keselamatan mengemudi. Ancaman tersebut bisa datang karena kesalahan Anda mengemudi. Faktor lebatnya hujan, licinnya jalan, dan kesalahan mengoperasikan mobil bisa saja menjadi penyebab utama munculnya kecelakaan di musim penghujan itu. Sementara, bila mengemudi dengan hati-hati di bawah guyuran hujan ternyata juga tidak menjamin keamanan Anda berkendara. Soalnya kecelakaan dapat pula terjadi akibat kelalaian dan kecerobohan pengemudi lain. Ini paling sering terjadi di jalan tol.

Memosisikan mobil secara tepat, cara mengemudi andal, serta waspada terhadap kemungkinan munculnya kelalaian pengemudi lain jelas menjadi bagian yang harus dikuasai. Berikut ini sejumlah saran yang perlu diperhatikan.

Melayang setelah hujan turun
Sesaat hujan turun, apalagi cuaca baru saja terik, jalanan beraspal akan terasa amat licin. Jauh lebih licin dibanding setelah hujan lebat turun dalam waktu lama. Kondisi amat licin sesaat hujan turun itu akan membawa munculnya hydroplaning, yaitu berkurangnya daya cengkeram ban terhadap jalan. Akibatnya mobil yang berlari kencang (kecepatan di atas 80 km/jam) tiba-tiba akan terasa melayang.

Mengahadapi kondisi ini, apalagi bila sedang melaju di jalan tol, jangan sekali-kali melakukan pengereman secara mendadak. Turunkan kecepatan mobil dan susul dengan menurunkan posisi perneling ke gigi lebih rendah hingga didapat efek engine brake (pengurangan kecepatan karena turunnya putaran mesin).

Baru setelah kembali didapat daya cengkram, mobil bisa saja dilarikan lebih kencang. Bila itu menjadi pilihan, yakinkan ukuran ban mobil bersangkutan cukup lebar (radial). Melaju cukup kencang di bawah guyuran hujan perlu kemampuan mengemudi yang lebih. Bila tidak memiliki keahlian itu, lebih baik melajukan mobil perlahan dan biarkan posisi persneling paling tinggi pada tingkat empat percepatan (bila mobil bersistem lima percepatan).

Jaga posisi dan jarak mobil
Bagi lalu lintas padat memang tak mudah untuk menjaga jarak aman terhadap kendaraan lain. Apalagi bagi kondisi kota besar yang belakangan dipenuhi pula oleh sepeda motor. Namun, pengemudi tetap harus memperhitungkan tingkat reflek mata dan gerakan tubuh terhadap jarak mobilnya dengan kendaraan lain. Rata-rata kemampuan reflek pengemudi bereaksi terhadap ancaman tabrakan adalah kurang dari tiga detik. Maka posisikan kendaraan pada jarak di mana masih bisa menghindari petaka (dalam tiga detik) bila muncul kendaraan lain yang membahayakan.

Jangan nyalakan lampu hazard
Pengemudi yang menyalakan lampu hazard kala hujan lebat, baik di jalan biasa maupun tol, adalah perbuatan bodoh dan salah. Lampu hazard hanya difungsikan bila mobil mengalami kedaruratan. Ini biasanya identik dengan mogok dan berhenti di sisi jalan.

Menghadapi mobil yang menyalakan hazard dengan tetap melaju, ada baiknya diberi peringatan melalui kedipan lampu. Atau ikuti terus dengan memberi sorot lampu besar ke arah mobilnya. Bila mobil bersangkutan tak juga mengerti tanda itu, waspada, karena bisa saja mobil di depan langsung berbelok ke kanan atau kekiri tanpa bisa memberi sinyal melalui lampu sein (karena dua seinnya nyala berkedip akibat hazard difungsikan).
( bid/berbagai sumber )

Leave a Reply

Your email address will not be published.