Toyota Rush: Dari Mal hingga Tepi Laut

Belum pukul 7, pagi itu. Delapan Toyota Rush berjejer di Cilandak Town Square (Citos), Cilandak, Jakarta Selatan, tepat menghadap arah terbit matahari. Kilau warna-warni mika dan metalik memantul tajam.

Ada berbagai pengarahan tentang rencana perjalanan. Toyota Astra Motor (TAM), selaku tuan rumah, pun memberi gambaran tentang Rush. Waktu baru pertengahan Januari 2007. Inilah kesempatan pertama menguji coba (test drive) produk baru Toyota itu ke luar kota. Tujuan: Citarik, lalu Palabuhanratu, Sukabumi.

Dua jam persiapan di Citos. Sesi foto yang terburu-buru, karena diusir-usir satpam, lalu melajulah kedelapan Rush dengan kawalan Toyota Fortuner, Kijang Innova, dan sejumlah kendaraan lain. Ruas beton di Jalan Tol TB Simatupang menjadi santapan awal.

Sebagai SUV ringan, dengan volume mesin 1.495 cc, gelombang di jalan tol itu terasa di kabin. Halus memang, karena bodi monokoknya membagi rata guncangan serta kinerja suspensi (MacPherson Strut plus stabilizer di depan dan coil spring dengan lateral rod di belakang) cukup meredam. Apalagi mobil diisi empat orang dan sejumlah barang.

Garis bodi yang tegas, lebar dengan over fender, dan penampilannya yang baru, membuat Rush mengundang banyak lirikan. Peluang menggeber kendaraan ini muncul saat iring-iringan meluncur di Jalan Tol Jagorawi. Sebagian pengemudi mengaku kendaraan terasa melayang pada kecepatan 120 km per jam, tapi sebagian lain membantah.

Rush versi Indonesia berbobot 1.200 kg (seri S A/T), lebih ringan sekitar 200 kilogram daripada versi Jepang yang diluncurkan Januari 2006. ”Konsumen kita lebih suka yang ringan,” kata Direktur Marketing TAM, Joko Trisanyoto. Namun demikian, panjang total Rush (dan Daihatsu Terios) versi Indonesia lebih panjang 410 mm, yaitu 4.405 mm. Jarak sumbu pun lebih panjang 105 mm dari versi Jepang 2.580 mm.

Perbedaan itu memberi nilai tambah bagi kestabilan Rush Indonesia. Apalagi kendaraan ini memiliki telapak yang kokoh, velg ukuran 16 dengan lebar ban 235 mm (Terios 215 mm). Sementara, melihat spesifikasi resmi TAM, tak ada perbedaan radius putar di antara produk Indonesia dan Jepang, yaitu 4,9 meter (sebagai perbandingan, Avanza 4,7 meter, Innova 5,4 meter), sehingga mempermudah manuver.

Itu pulalah yang membuat Rush terasa friendly bagi pengemudi. Jalan padat dan macet di kawasan Rancamaya Bogor, hingga Cicurug, Sukabumi, dengan mudah dilalui. Demikian pula saat konvoi harus memilih-milih lintasan di medan off-road perkebunan sawit dan teh di kawasan Cikidang, Sukabumi. Mudah saja melintasi jalanan tanah dan kerikil.

Sempat muncul kekhawatiran, terutama pada Rush seri S A/T, saat medan yang buruk dan menanjak menghadang konvoi. Namun, posisi low (L) pada transmisi otomatis ternyata sangat membantu. Kendati rasio gigi L tak sebesar gigi 1 pada tipe G, kendaraan dapat melaju di tanjakan ekstrem dengan mudah. Paling bagus jika putaran mesin dijaga pada posisi sekitar 4.400 rpm, saat torsi paling melimpah. Rush otomatis menyediakan transmisi tipe gate dengan kelengkapan gigi L, 2, 3, dan D untuk melaju.

Test drive pekan lalu memberi peluang bagi Rush untuk menjajal semua jenis medan. Ruas tol Jagorawi yang mulus, jalan melingkar-lingkar naik-turun setelah Citarik ke arah Palabuhanratu, perlintasan berkelok-kelok antara Palabuhanratu dan Cisolok, bahkan jalur berpasir tebal di Pantai Cikembang.

”Mataharinya ada empat,” celetuk seorang wartawan. Pantai Cikembang siang itu amat terik memang. Panas luar biasa. Berlindung di kabin Rush, sejuk AC double blower menjadi amat menyenangkan. Tapi, tak lama, karena kinerja AC tak kuat melawan ”empat matahari” jika kendaraan dalam kondisi diam. Apalagi semua kaca belum berlapiskan film.

Melaju ke arah Cisolok, barulah kabin terasa sejuk. Tak ada perbedaan jenis pendingin pada seri G maupun S. Perbedaan yang mudah dikenali adalah lingkar kemudi. Pada seri S A/T, lingkar kemudi adalah tipe 4 spoke berlapis kulit. Pada seri G dan S M/T, lingkar kemudi tipe 3 spoke berbahan pollyurethane, sama dengan Avanza.

Warna dasar ivory di dalam kabin membuat nyaman dan terkesan modern. Demikian pula center cluster yang berwarna silver. Dalam hal interior, Rush memiliki kelebihan dibandingkan saudara kembarnya, Daihatsu Terios, mulai dari kualitas bahan jok, audio, hingga hal sederhana seperti cermin di sun visor. Kenyamanan pengendaraan mengobati lelah petualangan dua hari di Sukabumi: Dari rafting, lomba lempar batu, tarik tambang, hingga flying fox.

Rentang harga Rush cukup lebar antara seri G dan S A/T. Toyota Astra Motor memasang banderol Rp 155,4 juta untuk seri G, Rp 165,4 juta untuk seri S M/T, dan Rp 179,4 juta untuk seri S A/T. Sebagai perbandingan, Daihatsu Terios termurah tipe TS dijual seharga Rp 122,5 juta, tipe TX M/T senilai Rp 151 juta, dan tipe TX A/T seharga Rp 161 juta.

Tentu, ada perbedaan bila harus memilih salah satu. Tapi, pada dasarnya semua menawarkan gaya maskulin yang lepas dari kungkungan formal sehari-hari. Daihatsu mempromosikan ”your wild side”. Toyota menyebutnya, ”unleash yourself.” rys

One thought on “Toyota Rush: Dari Mal hingga Tepi Laut”

Leave a Reply

Your email address will not be published.