Teknologi Ban

Tak hanya mesin dan mobil saja yang mengalami kemajuan teknologi. Karet bundar alias ban juga sudah mengalami kemajuan, walau belum bisa dibilang sekencang kemajuan teknologi di mesin.

Pabrikan-pabrikan besar sering mengadakan uji teknis terhadap produk-produk yang dikeluarkan. Seperti Michelin, Pirelli, Bridgestone, Dunlop dan banyak lagi. Karenanya tak aneh jika ban-ban ini sering dipakai untuk komoditas balap internasional. Seperti ban yang bisa menghemat BBM, run flat tyres dan banyak lagi.

Bagaimana dengan ban di Indonesia? Setali tiga uang dengan negara-negara besar. Industri ban di Indonesia juga mengalami kemajuan. Kalaupun belum di produksi di Indonesia, namun produknya bisa didapat.

Seperti dilakukan oleh PT Bridgestone Tyre Indonesia (BTI). Pihaknya mendatangkan Potenza 001 Adrenaline sebagai pengganti Potenza GIII. Ban ini asimetris, “Jadi wajar kalau lebih berisik, tapi handal di hujan dan kering,” ungkap Dadan, staf Field Service Engineering (FSE) PT BTI.

Selain asimetris, ban yang tersedia mulai ukuran 15 inci juga ada teknologi lain. “Dulu ban penggabungan antara atas dan bawah. Di ban Adrenaline ini sudah per potong secara memanjang, disatukan jadi ban. Jadi akan terlihat banyak garis melintang di ban. Semakin banyak makin bagus,” tambah Iif, Research Promotion Legal, perusahaan yang sama.

Beda lagi yang dilakukan oleh PT Multistrada Arah Sarana Tbk. “Kita sudah punya yang ring 22 inci. Permintaannya tergolong menjanjikan,” ungkap Prawita Hertika, media & public relation manager, pada pabrikan ban penghasil merek Achilles, Corsa dan Strada ini.

Sedang PT Gadjah Tunggal Tbk. sudah membuat ban yang speed indexnya mencapai Y. “Artinya sudah bisa dipakai untuk kecepatan di atas 350 km/jam,” ungkap Johanes Maria, marketing dept PT Gadjah Tunggal.

Penulis/foto: Toncil/Dolok (Tabloid Otomotif)

Leave a Reply

Your email address will not be published.