Mengemudi Saat Mengandung

BILA tidak mendesak, memang sebaiknya seorang wanita hamil untuk sementara menahan keinginannya mengemudikan kendaraan. Namun, bukan berarti bila memang terpaksa, tidak ada cara aman bagi ibu-ibu hamil untuk mengemudikan kendaraan.

Beberapa sumber mengusulkan, agar sabuk dapat disandang dengan posisi menyilang melewati celah dada. Jangan sampai menekan salah satu payudara. Sementara bagian sabuk yang berada pada bagian perut (lap belt) harus di dorong ke posisi yang serendah mungkin atau ke arah bagian panggul.

Pada sebuah hasil survei dikatakan tidak sedikit ibu-ibu hamil yang merasa lebih nyaman untuk tidak menggunakan sabuk pengaman. Padahal, sabuk pengaman itu sendiri sebenarnya dirancang dan merupakan kontributor lebih dari 40 persen keselamatan penumpangnya.

Selain sabuk pengaman, setiap kendaraan juga dilengkapi dengan peralatan pengaman lainnya, seperti kantong udara (air bag). Beberapa kalangan berpendapat, ibu-ibu hamil tetap menggunakan sabuk pengaman meskipun ada kantong udara.

Agar daya tahan kantong udara dapat dimaksimalkan, posisi kursi sebaiknya dimundurkan kira-kira sejauh 25 cm dari keadaan sebelumnya, standar.

Pada berbagai kendaraan modern biasanya memiliki pengatur posisi roda kemudi. Fasilitas ini harus dimanfaatkan agar setir tidak mengarah ke bagian perut. Namun, sekali lagi, ibu-ibu hamil sebaiknya menjadi penumpang saja.

Kesiapan penumpang lainnya juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Karena, penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman pun bisa menjadi ancaman bila melesat membentur kandungan ibu-ibu yang hamil.

Saat ini memang tidak sedikit kendaraan yang sudah menanamkan teknologi tinggi pada sabuk pengaman. Seperti pretensiometer yang responsif terhadap perubahan tekanan sabuk pengaman. Dengan alat ini, sabuk pengaman tidak hanya seperti tali terkunci mati saja, tetapi memberikan sentuhan dan tekanan yang dapat menyesuaikan tekanan mendadak akibat kendaraan yang mengalami benturan.

Bahkan karena begitu percaya dengan hasil produksi otomotif di negerinya, beberapa negara bahkan berani mengharuskan ibu-ibu hamil untuk menggunakan sabuk pengaman saat berada di dalam kendaraan.

Belum lagi, peralatan yang pengaman seperti Electronic Disc Barker dan peralatan lainnya yang mampu meredam sekecil mungkin efek kejut dari sebuah benturan dahsyat sekalipun. Bahkan, ada peralatan navigasi yang didukung komponen sensor canggih sehingga mampu membimbing pengemudi menghindar sedini mungkin dari ancaman kecelakaan.

Tapi apakah semua ibu hamil mau ambil risiko dengan pernyataan yang pasti masih bertalian dengan kegiatan marketing perusahaan tersebut.

Beberapa perusahaan, seperti Volvo Car Corporation, memang sudah secara serius mengadakan uji coba benturan kendaraan dengan pengemudi berupa boneka yang memiliki kondisi seperti ibu hamil.

Produsen kendaraan asal negara Swedia ini akhirnya berhasil mereka bagaimana guncangan menggetarkan janin ketika kendaraan mengalami benturan. Pada sebuah tangkapan rekaman video yang diolah menjadi sebuah model komputer terlihat jelas bagaimana sabuk pengaman dan kantong udara bereaksi terhadap rahim ibu hamil.

Pada sebuah kecelakaan, rongga dada dan tulang panggul akan tertahan sabuk pengaman. Namun, bagian perut yang tidak memiliki penahan tentu akan bergerak memiliki arah sesuai dengan gaya dorong yang timbul akibat benturan kendaraan.

Pada kondisi itu, janin yang sebenarnya berada pada posisi terapung di dalam kandungan berhadapan dengan berbagai macam kemungkinan. Plasenta mungkin akan mengalami pelepasan sebagian atau bahkan sepenuhnya. Kalau sudah demikian, suplai oksigen janin pun mengalami gangguan.

Masalah inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi para produsen kendaraan otomotif, bagaimana mengurangi gangguan plasenta ketika terjadi benturan. Karena, pada dasarnya janin jarang sekali mengalami cidera fisik akibat benturan yang dialami tulang pinggul ibunya ketika kendaraan mengalami kecelakaan. (Dari berbagai sumber/Y-5)

Leave a Reply

Your email address will not be published.