Memanfaatkan Teknologi KERS pada Mobil Berpenumpang

kersDewasa ini, pabrikan mobil dunia terus berlomba menghasilkan teknologi irit bahan bakar, seiring menipisnya cadangan minyak fosil dunia. Beragam teknologi pun dikembangkan untuk menghasilkan teknologi atau sistem yang mampu menekan penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Salah satu teknologi paling canggih yang tengah dikembangkan saat ini adalah teknologi kinetic energy recovery system (KERS). Teknologi ini memanfaatkan energi kinetik yang keluar saat pengereman untuk kemudian digunakan guna memperkuat daya dorong saat pedal rem dilepas. Sehingga saat pedal gas ditekan, semburan BBM di ruang bakar tidak akan sebanyak pada sistem konvensional. Tanpa teknologi KERS, selama ini energi tersebut terbuang percuma.

Saat ini, KERS baru digunakan pada mobil-mobil formula satu (F-1). Memang betul biaya produksi teknologi ini teramat mahal untuk diterapkan pada mobil berpenumpang. Namun, itu bukanlah mimpi tanpa alasan yang jelas.

Dalam bentuk yang lebih sederhana ketimbang KERS, sejumlah pabrikan mobil besar mulai mengembangkan teknologi dengan prinsip kerja serupa KERS. Pabrikan Jerman, Audi misalnya, mereka mulai menerapkan sistem stop and start untuk mobil-mobil konsep tahun 2009 besutan mereka.

Teknologi stop and start juga memanfaatkan energi yang terbuang pada saat pengereman untuk diubah menjadi energi listrik. Energi listrik inilah yang digunakan untuk menggerakkan kembali mobil saat pedal rem dilepas. Sehingga semburan BBM di ruang bakar saat pedal gas diinjak jauh lebih efisien.

Audi menggabungkan sistem start and stop tersebut dengan teknologi baterai untuk menjaga sistem yang andal itu tetap bekerja pada suhu rendah. Audi juga menggabungkannya dengan program efisiensi modular dengan menggunakan sistem komputer. Dengan teknologi, semua data yang berhubungan dengan penggunaan BBM akan ditampilkan melalui sebuah layar kecil yang diletakkan di tengah panel instrumen.

Menghemat BBM

Audi menerapkan sistem ini pada Audi A3, Audi A4, dan A5. Hasil uji coba menunjukkan sistem ini mampu menghemat konsumsi BBM sebanyak 0,2 liter untuk setiap 100 km. Ini cukup bagus untuk kendaraan dengan mesin sebesar 2.000 cc atau lebih.

Pada mobil-mobil hibrida, sistem pemanfaatan energi terbuang yang diubah menjadi energi listrik sudah mulai digunakan. Pada New Toyota Prius yang rencananya akan dipamerkan pada International Indonesia Motor Show 2009 pada 24 Juli – 3 Agustus 2009, teknologi sudah diadopsi. Energi panas dan energi kinetik yang terbuang pada saat pengereman, diambil kembali untuk dijadikan energi listrik yang akan menggerakkan mobil saat rem dilepas. Pada as roda ataupun pada transmisi dipasangi sebuah generator mini yang akan menghasilkan listrik, baik saat mobil direm maupun saat melaju. Saat tidak diperlukan, energi tersebut disimpan dalam baterai sebagai tabungan energi.

Prius menggunakan KERS elektrik dengan memanfaatkan energi putaran roda. Hal penting dari pemanfaatan teknologi KERS itu adalah bagaimana cara menyimpan energi yang didapatkan tadi. Untuk itu dikembangkan teknologi recovery energy storage system (RESS) yang akan menyimpan energi manakal tidak diperlukan.

Pada Prius, energi yang diperoleh dari roda disimpan dalam aki alias baterai yang nantinya akan digunakan untuk memutar motor listrik. Motor listrik dimanfaatkan untuk membantu mesin utama saat berakselerasi atau untuk mengaktifkan perlengkapan mobil seperti AC, audio/video, atau alat kelistrikan lainnya. Jadi jika ingin mengirit BBM, tak perlu lagi mematikan AC.

Semua teknologi dikembangkan industri otomotif untuk memperkecil konsumsi BBM dunia. Pada akhirnya, teknologi tersebut akan digunakan untuk mobil-mobil penumpang. Miliaran liter BBM akan dihemat setiap harinya di seluruh dunia berkat teknologi semacam itu.

Di negara-negara maju, kesadaran untuk menggunakan mobil-mobil yang ramah lingkungan sangat tinggi. Mobil hibrida paling laris di Amerika Serikat adalah Toyota Prius. Mengalahkan Honda Civic dan Honda Insight.

Di seluruh dunia saat ini, penjualan Prius mencapai sekitar dua juta unit. Dan Amerika merupakan negara paling banyak menggunakan Toyota Prius. Saat ini, pengembangan Toyota Prius sudah menginjak generasi keempat. Kendaraan bermesin 1.800 cc itu mengonsumsi bahan bakar satu liter untuk jarak tempuh 21,5 kilometer. Sangat efisien untuk ukuran mobil bermesin 1.800 cc.

Semoga saja aplikasinya pada mobil penumpang segera menjadi kenyataan demi menyelamatkan bumi ini dari bahaya polusi yang bersumber dari BBM. Semoga saja! [SP/Setya Lesmana]

Leave a Reply

Your email address will not be published.