Berkendara di Tengah Banjir

Banjir yang sering menggenangi sebagian jalanan Jakarta dan kota-kota lainnya, belakangan ini membuat banyak pengemudi city car was-was, khawatir mogok dan mesin jebol. Mobil seperti Suzuki Karimum, Hyundai Atoz, KIA Visto dan KIA Picanto memiliki bodi kecil, suspensi rendah, dan ukuran peleknya pun relatif kecil sekitar 13 inci.

Namun menurut pakar otomotif Bebin Djuana, tidak perlu khawatir menggunakan city car saat banjir asalkan tahu tekniknya. Pertama yang harus diperhatikan adalah ketinggian air. Batas aman air yang bisa dilewati oleh kendaraan mungil ini, banjir setinggi lutut (60 cm) atau maksimal sebatas bawah lampu. “Lebih dari itu, semua mobil pasti dapat masalah,” kata Bebin.

Sejumlah peranti harus dihindarkan dari rendaman air, antara lain air intake (saluran masuk udara). Air yang masuk ke silinder lewat peranti ini, dikhawatirkan bakal menyebabkan water hammer. Karena air tidak dapat dimampatkan, kalau masuk ke silinder, crankshaft mungkin bengkok dan bila dipaksakan dapat patah. Dinding silinder pun jadi tergores. Cermati letak lubang masuk udara Karimun dan Visto. Kalau banjir diperkirakan melebihi mulut lubang, jangan paksakan masuk. Mending putar balik.

Masukkan persneling ke gigi satu dan pertahankan putaran mesin di atas 2.000 rpm atau mendekati 3.000 rpm. Saat mobil berjalan lambat, jangan sekali-kali geber-geber mesin, konstan saja. Kopling pun harus dilepas.

Jangan khawatir, meski lubang knalpot kemasukan air, tak akan menerobos sampai mesin. Disebabkan oleh tendangan udara dari dalam. Namun begitu gas ditutup atau mesin mati mendadak, air segera tersedot masuk lubang knalpot. Saat berjalan di genangan air, tak lupa matikan dulu AC, karena extra fan-nya akan membuat beban lebih.

Sebagai catatan penting, hindari riak air yang datang dari mobil lain (arah berlawanan). Karena ketinggian air akan berubah. Terutama dari mobil-mobil besar. Kalau sudah begini, percuma kita mengira-ngira tinggi air. [L-11]

Leave a Reply

Your email address will not be published.